Selamat malam, seseorang yang berada di sudut kota sana. Hi,
kalian berdekatan bukan? Semoga hatimu tetap menjadi puan yang menawarkan
segala rasa.
Malam kesebelas di bulan Oktober ini semoga terlewatkan
dengan seutas senyum yang tak terpakasa. Puan, kau ialah puan yang tak
sepantasnya meratapi keadaan. Tangismu terlalu berharga untuk sebuah rasa yang
tak terlihat bagaimana akan dibawa. Segalanya masih abu bukan? Aku pernah
merasakannya, rasanya aneh. Tetap merindu meski terabaikan, tak terlihat. Tetap
memperhatikan meski jelas tak diperhatikan. Tetap mencintai meski tertatih
melawan peri.
Rasa itu luar biasa, lebih dari yang kau dan ia kira. Rasa itu
aneh, kau bisa terjemahkan? Aku rasa tidak. Biarkan aku menjadi yang paling sok
tahu di antara kalian berdua. Biarkan aku mengatakan tanpa adanya jeda dan
interupsi dari kalian berdua. Aku sudah bilang, biarkan aku menjadi yang paling
tahu tentang kalian, meski aku tak seutuhnya tahu.
Dalam sebuah hubungan harus ada sebuah kejelasan bagaimana
hati akan dibawa. Bila memang mengharuskan tak bersama, jangan sampai ada hati
yang sama-sama terluka karena setelah itu tak ada lagi sapaan di ujung telepon,
tak ada lagi senyum khas yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata semata. Jangan.
Iya, memang hati butuh waktu yang sangat angkuh itu untuk membalikan keadaan. Tetapi,
bisakah rasa yang ada dalam hatimu kau urai kembali untuk puan yang satu ini? Sedikit
saja, tanpa melukai lagi, tanpa goresan halus yang diam-diam menyimpan segala
peri. Separuh hati yang telah sepenuhnya terisi itu, ialah melodi paling tulus
untuk kau dengarkan. Puan itu, memberikan hatinya untuk seorang yang tengah
membentangkan dunia ambigu yang sedang diselami tanpa tahu apakah dangkal atau
dalam dunia yang ia selami.
Tuan dan puan. Aku menyebut kalian seperti itu saja, tanpa
maksud mendiskriminasikan atau menyinggung perasaan satu sama lain. Aku pernah menjadi
kalian. Rasanya sangat sakit, berlarut-larut dalam ketidakpastian. Tuan, kau
pasti pernah bermain layang-layang kan? Kalau begitu, kau pasti tahu bagaimanya
teknih bermainnya bukan? Iya, benar sekali, tarik-ulur. Pasti kau juga tahu
bagaimana rasanya ketika tanganmu tergores oleh senar yang melangitkan
layang-layangmu. Rasanya sakit. Sama halnya ketika sebuah hubungan ditarik-ulur
terus menerus. Rasa yang aneh ditambah rasa serba salah yang mengakibatkan
sesak disetiap malamnya, rasa aneh ketika bertatap muka.
Jika memang tidak bisa saling menggenggam sebagai sepasang
puan dan tuan yang saling menyesap madu, bisakah kalian menjadi sepasan adik
dan kakak yang saling menyayangi tanpa celah bagi pihak lain mengganggu?
Apakah kau tahu, Tuan bahwa hati yang acapkali kau abaikan
itu memiliki rasa yang teramat tulus untukmu, hingga ia tak mengetahui lagi
bagaimana hatinya kini. Rasa itu sangat menyiksa terlebih tanpa adanya sepatah
kata dirimu untuk meyakinkan hatinya agar tetap baik-baik saja? Kau mungkin tak
tahu, maka aku akan memberi tahumu sekali saja, luangkanlah sedikit waktu dari
banyaknya kesibukan yang kau alami. Hanya untuk memberikan frasa yang
membesarkan hati puian ini. Tolong. Hati puan ini tertatih menahan segala yang
tak tersampaikan dalam hatinya.
Puan, malammu tak akan lebih panjang dari sisa-sisa malam
sebelumnya. Kembali pada hati, harimu terlampau besar untuk rasa yang hanya
sejengkal. Berbahagialah, duniamu indah tanpa air mata luka.
11 Oktober 2015
Untuk seorang puan di
sudut kota sana.
Tersenyumlah, kau
pantas mendapatkan
bahagia tanpa pihak
lain disela-selanya.
Regards.
-QEW-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar