Minggu, 11 Oktober 2015

Berbahagialah, Puan.



Selamat malam, seseorang yang berada di sudut kota sana. Hi, kalian berdekatan bukan? Semoga hatimu tetap menjadi puan yang menawarkan segala rasa. 

Malam kesebelas di bulan Oktober ini semoga terlewatkan dengan seutas senyum yang tak terpakasa. Puan, kau ialah puan yang tak sepantasnya meratapi keadaan. Tangismu terlalu berharga untuk sebuah rasa yang tak terlihat bagaimana akan dibawa. Segalanya masih abu bukan? Aku pernah merasakannya, rasanya aneh. Tetap merindu meski terabaikan, tak terlihat. Tetap memperhatikan meski jelas tak diperhatikan. Tetap mencintai meski tertatih melawan peri.

Rasa itu luar biasa, lebih dari yang kau dan ia kira. Rasa itu aneh, kau bisa terjemahkan? Aku rasa tidak. Biarkan aku menjadi yang paling sok tahu di antara kalian berdua. Biarkan aku mengatakan tanpa adanya jeda dan interupsi dari kalian berdua. Aku sudah bilang, biarkan aku menjadi yang paling tahu tentang kalian, meski aku tak seutuhnya tahu.

Dalam sebuah hubungan harus ada sebuah kejelasan bagaimana hati akan dibawa. Bila memang mengharuskan tak bersama, jangan sampai ada hati yang sama-sama terluka karena setelah itu tak ada lagi sapaan di ujung telepon, tak ada lagi senyum khas yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata semata. Jangan. Iya, memang hati butuh waktu yang sangat angkuh itu untuk membalikan keadaan. Tetapi, bisakah rasa yang ada dalam hatimu kau urai kembali untuk puan yang satu ini? Sedikit saja, tanpa melukai lagi, tanpa goresan halus yang diam-diam menyimpan segala peri. Separuh hati yang telah sepenuhnya terisi itu, ialah melodi paling tulus untuk kau dengarkan. Puan itu, memberikan hatinya untuk seorang yang tengah membentangkan dunia ambigu yang sedang diselami tanpa tahu apakah dangkal atau dalam dunia yang ia selami.

Tuan dan puan. Aku menyebut kalian seperti itu saja, tanpa maksud mendiskriminasikan atau menyinggung perasaan satu sama lain. Aku pernah menjadi kalian. Rasanya sangat sakit, berlarut-larut dalam ketidakpastian. Tuan, kau pasti pernah bermain layang-layang kan? Kalau begitu, kau pasti tahu bagaimanya teknih bermainnya bukan? Iya, benar sekali, tarik-ulur. Pasti kau juga tahu bagaimana rasanya ketika tanganmu tergores oleh senar yang melangitkan layang-layangmu. Rasanya sakit. Sama halnya ketika sebuah hubungan ditarik-ulur terus menerus. Rasa yang aneh ditambah rasa serba salah yang mengakibatkan sesak disetiap malamnya, rasa aneh ketika bertatap muka. 

Jika memang tidak bisa saling menggenggam sebagai sepasang puan dan tuan yang saling menyesap madu, bisakah kalian menjadi sepasan adik dan kakak yang saling menyayangi tanpa celah bagi pihak lain mengganggu? 

Apakah kau tahu, Tuan bahwa hati yang acapkali kau abaikan itu memiliki rasa yang teramat tulus untukmu, hingga ia tak mengetahui lagi bagaimana hatinya kini. Rasa itu sangat menyiksa terlebih tanpa adanya sepatah kata dirimu untuk meyakinkan hatinya agar tetap baik-baik saja? Kau mungkin tak tahu, maka aku akan memberi tahumu sekali saja, luangkanlah sedikit waktu dari banyaknya kesibukan yang kau alami. Hanya untuk memberikan frasa yang membesarkan hati puian ini. Tolong. Hati puan ini tertatih menahan segala yang tak tersampaikan dalam hatinya.

Puan, malammu tak akan lebih panjang dari sisa-sisa malam sebelumnya. Kembali pada hati, harimu terlampau besar untuk rasa yang hanya sejengkal. Berbahagialah, duniamu indah tanpa air mata luka.

11 Oktober 2015

Untuk seorang puan di sudut kota sana.
Tersenyumlah, kau pantas mendapatkan
bahagia tanpa pihak lain disela-selanya.

Regards.

-QEW-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar